BlackRock Inc. menyisakan sebagian kecil saja kepemilikan di MBMA, setelah sempat menjadi salah satu pemodal teratas perusahaan itu.
BlackRock Inc. tak lama menjadi salah satu pemodal jumbo saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA). Jelang tutup 2025, kepemilikan BlackRock di emiten entitas Merdeka Copper Gold itu, tersisa sebagian kecil saja.
Dalam sebulan terakhir, pergerakan saham MBMA di lantai bursa tengah dalam tren menurun. Hingga Jumat (12/12/2025) pukul 14:13 WIB, MBMA ditransaksikan naik 0,93% ke level Rp540 per lembar. Dalam sebulan terakhir, banderol itu mewakili penurunan 20,59%. Adapun, secara year to date (YtD), return positifnya mencapai 17,9%.
Sementara itu, menurut data Bloomberg Terminal, sejumlah pemodal kakap MBMA terus menambah kepemilikan. Adapun, BlackRock, firma investasi terbesar dunia bakal menutup 2025 dengan menjadi pemegang saham paling bawah dalam daftar investor korporasi.
Terkini, BlackRock hanya menggenggam 2.507 lembar saham MBMBA. Padahal, pada Juli 2025, BlackRock masih mengantongi 165,60 juta lembar saham MBMA. BlackRock sempat tercatat melepas seluruh saham MBMA yang tersisa di kantongnya sebesar 165,60 juta lembar pada Agustus 2025.
Dengan demikian, BlackRock terekam hanya 4 bulan saja menggenggam saham MBMA, terhitung sejak April 2025 dengan memborong pertama kali sebesar 879.500 lembar.
Pada Mei 2025, kepemilikan BlackRock di MBMA sempat melonjak menjadi 97,45 juta lembar, menempatkannya di jajaran teratas pemodal Merdeka Battery. Dalam dua bulan berikutnya, BlackRock masih sempat mengakumulasi saham MBMA masing-masing menjadi 164,14 juta lembar pada Juni 2025 dan 165,60 juta lembar pada Juli 2025.
Adapun, pada Oktober 2025, saham MBMA di kantong BlackRock tercatat 558 lembar, lalu bertambah menjadi 2.507 lembar pada November 2025.
Selain BlackRock, dua nama lain mengakumulasi MBMA sepanjang Desember 2025. Dimensional Fund Advisors LP, terekam memborong 146.400 lembar saham MBMA sepanjang bulan ini. Sepanjang periode berjalan kuartal IV/2025, MBMA telah mengakumulasi 41,16 juta lembar saham dari posisi akhir kuartal III/2025 sebesar 141,00 juta lembar.
Sementara itu, Sprott Inc. berbalik arah memborong saham MBMA setelah pada bulan lalu melakukan aksi lepas. Jumlah yang diborong Sprott Inc. sepanjang Desember 2025 sebesar 3,67 juta lembar dari 114,25 juta lembar per akhir bulan lalu menjadi 117,92 juta lembar.
Adapun, sepanjang Oktober-Desember 2025, kepemilikan Sprott di MBMA tercatat bertambah 50,34 juta lembar dari posisi akhir September 2025 sebesar 67,57 juta lembar.
Memacu produksi nikel
Dari sisi kinerja operasional, MBMA saat ini tengah memacu produksi tambang di di PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) dan pengembangan pabrik di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
“Produksi kami memang ramping up. Kami juga sedang mengirim bijih limonit dari SCM ke IMIP melalui pipa slurry,” Tom Malik, GM Corporate Communication MDKA, disela-sela acara Mine Tour & Media Workshop di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (7/11/2025).
Bijih limonit adalah bijih besi yang terdiri dari campuran besi oksida-hidroksida terhidrasi, seringkali dengan kadar nikel yang lebih rendah dibandingkan jenis bijih nikel lainnya. Sedangkan pipa slurry merupakan sistem perpipaan khusus yang dirancang untuk memindahkan campuran cairan dan partikel padat atau slurry dalam jarak jauh.
“Jadi, bijih [nikel] dibikin menjadi slurry kayak lumpur gitu kemudian dipompa. Saat ini, sudah ada satu yang berjalan, akhir tahun akan ada yang kedua. Di samping itu, tahun depan kami bikin satu lagi,” ucap Tom.
Dia menambahkan bahwa sistem pipa slurry sangat efisien dari sisi biaya pengangkutan. Namun demikian, memerlukan investasi yang cukup besar.
Di samping itu, MBMA juga mengembangkan pabrik HPAL ketiga di IMIP yang dioperasikan oleh PT Sulawesi Nickel Cobalt. Fasilitas ini memiliki kapasitas terpasang 90.000 ton nikel MHP yang akan beroperasi pada pertengahan 2026.
“Memang kelihatan ada proyek dan kemajuannya karena kami punya pipa untuk kirim bijih lebih murah, serta punya pabrik di IMIP. Jadi kebayang bahwa tahun depan ada peningkatan revenue dari pabrik-pabrik baru ini,” ucap Tom.
Sementara itu, Equity Analyst OCBC Sekuritas Devi Harjoto menyampaikan bahwa manajemen MBMA menargetkan penjualan bijih nikel dapat mencapai 20 juta wet metric ton (WMT) pada tahun depan.
Target ini sejalan dengan dimulainya operasi PT Sulawesi Nickel Cobalt, yang memiliki kapasitas sekitar 90.000 ton. Adapun Sulawesi Nickel Cobalt diproyeksikan mulai beroperasi pada paruh kedua 2026.
Selain itu, transisi Feed Preparation Plant (FPP) baru di tambang SCM diharapkan meningkatkan efisiensi biaya, terutama dari pengurangan biaya transportasi, sehingga keekonomian unit juga meningkat.
“Hal tersebut akan membantu memperkuat margin EBITDA yang kami perkirakan akan mencapai 19,1% pada 2026, dibandingkan dengan 9,6% pada 2025,” ujar Devi dalam publikasi riset terbarunya.

Tinggalkan komentar